Senin, 06 Mei 2013

Sidik Martowidjojo, Bunga Peoni Seni Lukis Indonesia




Sidik Martowidjojo

Alkisah, dimasa pemerintahan kaisar wanita pertama dan satu-satunya di China, Kaisar Wu Zetian, seluruh bunga di taman istana diperintahkan untuk mekar. Padahal, saat itu bukanlah musim semi, melainkan musim dingin. Tak mungkin bunga-bunga itu bermekaran.

Namun, karena perintah itu adalah perintah Kaisar, perpanjangan tangan tuhan, bagaimanapun caranya perintah itu harus dijalankan. Maka bermekaranlah semua bunga, kecuali satu, bunga peoni.

Bunga peoni menentang kehendak Kaisar Wu Zetian. Ia menolak untuk mekar di luar musimnya. Ia pun tetap bersiteguh dengan pendiriannya. Alhasil, Kaisar yang murka membuangnya ke daerah terpencil, keluar dari kenyamanan taman istana. Meski demikian, keindahan, keanggunan dan kepribadiannya yang kuat terlanjur melekat.

Bunga yang juga disebut dengan mutan inilah yang kemudian menjadi inspirasi Sidik Martowijojo dalam melukis bunga. Dengan berbagai warnanya yang cerah, ataupun gelap, Sidik mencoba menangkap kekuatan dan keanggunannya dalam teknik lukis yang cukup sulit.

“Bunga peoni adalah simbol dari kepribadian yang kuat. Sikap inilah yang harus dimiliki oleh setiap manusia, dan negara. Mereka harus memiliki identitas diri yang jelas, ideology yang kuat. Meski dari luar terlihat lemah dan lembut, namun kekuatannya tidak bisa ditandingi baik oleh seorang kaisar besar sekalipun,”kata Sidik saat diwawancara Sarasvati (12/4).

Sidik baru saja selesai menggelar pameran tunggalnya di gedung Arsip Nasional, jalan Gajahmada, Jakarta, 23-29 Maret 2013 lalu. Ada 76 lukisan bergaya Chinese painting (Guo Hua) yang dipamerkan dalam pameran bertajuk ‘Jembatan Emas Seni Rupa Indonesia-Cina’ itu. Namun, hanya sekitar 40 lukisan yang ditampilkan di gedung Arsip Nasional, karena keterbatasan tempat.

“Sebagian besar koleksi yang ditampilkan merupakan karya sehak tahun 2008,”katanya. Hanya sekitar 12-13 koleksi yang merupakan karya terbarunya tahun ini. “Persiapan pameran ini cukup singkat. Hanya dua hingga tiga bulan”.


Peoni Biru Menyimpan Rindu, 2012, chinese ink and watercolor on rice paper, 44 x 75 cm

Sidik menjelaskan, pameran ini merupakan bagian dari kerjasama Pemerintah RI-China untuk mendongkrak minat para wisatawan dari negeri tirai bambu agar mau berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya, Sidik juga pernah beberapa kali menggelar pameran tunggal di China. Ia bahkan mendapat penghargaan dari pemerintah China, antara lain dari karya Bunga Phoenix (media cat hitam putih) sebagai Lukisan China Mutu Terbaik dalam kompetisi seni lukis dan kaligrafi Cina sedunia di Beijing (2001) dan di Nanjing (2002). 

Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakangi pelaksanaan pameran ini. Pertama, katanya, China dan Indonesia memiliki banyak kesamaan. Keduanya sama-sama memiliki luas territorial yang luas dengan jumlah penduduk yang besar. “Jika kedua negara ini bersatu, tentu akan menjadi lebih baik lagi,” katanya. Kedua, “saat ini China adalah negara yang memiliki uang yang cukup banyak. Sementara Indonesia kaya akan kandungan mineralnya. Bayangkan jika dua sumber kekayaan ini menyatu”.

Salah satu cara untuk mendekatkan kedua negara adidaya di Asia ini, menurut Sidik adalah melalui seni budaya. “Seni dan budaya tidak memiliki batasan, tak ada territorial, seni dan budaya adalah universal. Ini adalah kesempatan tepat,”katanya.

Kali ini, Sidik membagi koleksi pamerannya dalam tiga tema yakni Lansekap, Bunga dan Satwa. Hal ini memang tidak jauh dari tema umum yang kerap digunakan Sidik dalam setiap karyanya. Pria bernama asli Ma Yong Qiang ini, memang sering menjadikan pemandangan alam sebagai objek dalam lukisannya.

Dua tema lukisan, landsekap dan bunga, menurut Sidik tetap menjadi primadona dalam pameran. Lukisan landsekap yang begitu khas ‘Sidik’ banyak menarik minat para kolekter dari Indonesia. Sementara, lukisan bunga tentu saja menarik perhatian para kolektor dari China.

“Lukisan landsekap yang ditampilkan adalah lukisan khas Sidik. Tidak ada duanya di dunia, tidak mudah untuk ditiru. Lukisan itu adalah ciri khas Sidik,”katanya.

Sementara, satu lukisan dari tema satwa yang menjadi primadona dan dijagokan Sidik, adalah lukisan kuda menembus awan. “Lukisan kuda ini sangat special. Ia tidak dilengkapi dengan mulut. Badannya yang menembus kepulan awan, membuatnya seakan-akan terbang menembus langit,”kata Sidik.

Bukan Sidik jika lukisannya tidak menyiratkan sesuatu. Ia mengatakan, kuda lukisannya adalah simbol keberhasilan. “Melalui lukisan ini, saya ingin mengatakan bahwa sebagai manusia, dan negara, harus memiliki visi misi dan cita-cita setinggi langit, hingga menembus awan,”katanya.

“Ilahi itu menciptakan dunia tanpa batas dan kita diberi hak untuk menembusnya, mempelajari dan mencari tahu tentangnya. Meskipun upaya kita tidak mungkin melebihi kekuatan dan kemampuan Ilahi”.

Identitas Diri


Kuda Dewata Terbang ke Langit, 2010, chinese ink and watercolor on rice paper, 68 cm x  136 cm


Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 24 September 1937 ini belajar melukis secara otodidak sejak berusia kanak kanak. Saat itu ia sudah jatuh cinta dengan lukisan aliran Guo Hua yang menggunakan media kertas beras dan cat air. Lalu, pada usia sembilan tahun, ia mulai belajar kaligrafi dari Nie Phing Chong dan Xiau Pai Xin (alm), seorang kepala sekolah Tionghoa di Malang.

Sidik juga belajar sastra dari ayahnya, Phe Hwie Kwan, yang mengenalkannya kepada buku-buku karya pelukis maestro China, seperti Qi Pai She. Seiring waktu ia mulai mengenal dan mengagumi karya-karya Handrio, H. Widayat, S. Sudjojono dan Hendra Gunawan.

Di Indonesia, jumlah seniman lukis beraliran Guo Hua seperti Sidik memang tidak banyak. Menurutnya, seniman lukis Indonesia lebih suka mengikuti perkembangan pasar.  “Banyak yang bertanya mengapa saya tidak juga menggunakan kanvas dan cat minyak seperti yang dilakukan kebanyakan pelukis di Indonesia. Jawab saya: “Saya bisa kehilangan jati diri”,”katanya.

Ia juga mengakui, melukis dengan menggunakan media kertas beras dan cat air jauh memuaskan ketimbang menggunakan kanvas dan cat minyak.  Tidak saja saat akan melukis, namun setelah lukisan selesai kepuasannya juga terasa berbeda.

“Saya pernah mencoba melukis di atas kanvas dan cat minyak. Namun, saya lebih senang di atas kertas beras. Sudah jatuh cinta. Melukis di atas kertas beras ternyata juga membuat cat lebih menyerap, mengikat. Lukisannya pun lebih taham lama. Lukisan di atas kanvas dalam beberapa tahun saja bisa langsung rontok, rusak. Berbeda dengan kertas beras yang lebih awet,”jabarnya.

Hingga tahun ini, Sidik sudah ‘menelorkan’ 300 hingga 400 karya. Sebagian besar media kertas beras ia peroleh langsung dari negeri tirai bambu. “Di Indonesia ada, tapi kualitasnya jelek. Di Singapura harganya terlalu mahal,”katanya.

Sejak 1998, Sidik telah menggelar lebih dari 20 pameran tunggal dan pameran bersama. Seperti pameran di Galeri Nasional, Jakarta, Langgeng Gallery, Magelang, dan Nadi Gallery, Jakarta. Dalam sejumlah kesempatan ia juga mulai mengadakan pameran di Cina, seperti The China Millenium Monument, Beijing, National Art Museum of China (NAMoC), Beijing, Liu Haisu Art Museum, Shanghai, Fuzhou National Gallery, Fuzhou, dan Huafu Tiandi, Shanghai.

Ia juga mendapat piagam penghormatan 10 Besar Seni Budayawan pada forum diskusi ilmiah "Masyarakat Kecil dan Makmur di Beijing" pada 2006 dari Pusat Pemuda Partai China, karena dianggap berhasil melakukan pembaharuan dalam seni budaya Cina. Uniknya, Sidik adalah satu-satunya peserta dari luar Cina. 

Atas karyanya, Sidik juga diangkat sebagai peneliti pada Pusat Penelitian Seni Republik Rakyat Tiongkok di Beijing dan sebagai pengajar tamu (guest professor) di Eastern International Art College of Zhengzhou University of Light Industry pada 2007.

“Cukup bangga, karena mereka menghargai tinggi koleksi saya. Mereka mengatakan, “mereka sangat senang dengan karya lukisan saya, berbeda dengan seniman-seniman china yang terkesan manja karena mereka harus dibayar untuk membuat karya”.

“Sayangnya, dukungan dan perhatian pemerintah China seperti itu tidak terjadi di Indonesia. Seniman lukis Indonesia maupun seniman lainnya harus berjuang sendiri untuk mengembangkan karya mereka. Padahal peran seni dan budaya dalam perkembangan bangsa cukup penting. Seni dan budaya adalah identitas bangsa, masa depan bangsa”. 

(Diedit untuk diterbitkan di Sarasvati.co.id, April 2013) Klik here



Memantapkan Langkah Baru



Situasi di sarang lama (office) tak lagi baik. Terlalu banyak intrik dan melodrama. Diripun mulai merasa tidak berkembang, apalagi maju.

Untaian doa dipanjatkan. Memohon ditunjukkan jalan baru. Memohon untuk diberikan jalan keluar. Memohon untuk diberikan semangat dan keberanian baru.

Keluar dari zona nyaman, dengan dua malaikat kecil di istana dunia, tentu memberi pertimbangan yang rumit untuk diputuskan.

Namun, enam tahun (jalan tujuh) sarang itu sudah semakin reot. Tak mampu lagi memberikan kehidupan. Hingga begitu layak untuk ditinggalkan. Hanya perlu KEBERANIAN.

Dan, saya putuskan. April 2013, adalah saatnya untuk saya terbang ke sarang yang baru. Madu manis yang disediakan di sarang baru, tak rela saya tolak. Hanya perlu KEBERANIAN, untuk terbang mencapai madu.

Untuk teman-teman yang ditinggalkan, saya berdoa semoga segera mendapatkan sarang yang baru. Angin yang berhembus sangat kencang, ancaman untuk sarang lama. Segeralah terbang. Jangan ragu.

Kututup dengan "Syukurku pada-Mu, ya ALLAH. atas segala langkah yang kau tetapkan untukku. Alhamdulillah...."



Selasa, 30 April 2013

Menyelamatkan Mahakarya S. Sudjojono


Pertempuran Sultan Agung Melawan Jan Pieterzoon Coen, 1973
Cat minyak di atas kanvas, 3 x 10 meter
Sindudarsono Sudjojono, atau yang akrab disapa ‘Pak Djon’, adalah sosok penting dalam dunia seni lukis Indonesia baru. Sudjojono adalah satu dari tiga seniman lukis ternama di Indonesia pada abad ke 20 bersama-sama Affandi dan Basuki Abdullah. Atas usahanya dalam mencari, membentuk dan membangun seni rupa yang kental dengan karakter Indonesia, ia kemudian disebut sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia.

Sebagai bentuk penghormatan atas peran dan kontribusi Sardjojono yang sudah mencapai satu abad ini, instansi S.Sudjojono center bersama sejumlah pihak, menggelar rangkaian acara peringatan ‘Seabad S. Sudjojono’ yang bertujuan untuk memamerkan hasil karya seni, kehidupan dan legacy Sudjojono.

Diawali dengan diskusi tentang salah satu karya monumentalnya yang kini terpajang indah di Museum Sejarah Jakarta, Pertempuran Sultan Agung Melawan Jan Pieterzoon Coen. Oleh para kurator, lukisan yang bercerita tentang perlawanan Sultan Agung dari kerajaan Mataram melawan Gubenur Batavia (VOC) Jan Pieterszoon Coen, disebut sebagai salah satu mahakaryanya.

Menyusul empat lukisan lainnya yang telah lebih dulu diklaim sebagai karya-karya monumental sang maestro, seperti Di Depan Kelambu Terbuka, Tjap Go Meh, Seko, dan Pengungsi. Lukisan yang sama juga mengantarnya meraih penghargaan “the Fine Art Award” dari pemerintah Republik Indonesia pad atahun 1970.

Lahirnya Mahakarya: Pertempuran antara Sultan Agung dengan JP Coen

Tidak banyak yang mengetahui sejarah dibalik pembuatan lukisan Pertempuran Sultan Agung Melawan Jan Pieterzoon Coen yang selesai pada tahun 1973 dan kini terpampang indah di ruangan Sultan Agung, Museum Sejarah Jakarta.

Dari ratusan tamu undangan yang hadir, mayoritas adalah awak media, dalam diskusi mahakarya S Sudjojono itu, kurang dari 20 orang yang mengaku sudah melihat dan mengetahui latar belakang pembuatannya

Salah satu pembicara, Prof Dr.Ing Wardiman Djojonegoro, yang pernah menjabat sebagai Menteri P&K sekaligus anggota tim pemesan lukisan Sultan Agung menjelaskan, lukisan itu dibuat berdasarkan pesanan Gubernur DKI Jakarta yang menjabat saat itu, Ali Sadikin, sebagai bagian dari peresmian Museum Sejarah Jakarta tahun 1974.

Saat itu, Museum Sejarah Jakarta akan dipugar sebagai bagian dari upaya restorasi benda-benda peninggalan sejarah yang ada di kawasan kota tua Jakarta, atau Batavia saat itu. Untuk memperindah ruangan-ruangan di dalamnya, Ali Sadikin memutuskan untuk memajang sejumlah karya lukisan. Dipilihlah dua seniman lukis local, Sudjojono dan Haryadi. “Kedua seniman lukis itu sangat berkesan bagi saya, maka kami usulkan keduanya kepada Ali Sadikin dan diterima,”kata Wardiman.

Untuk Sudjojono, dipilihlah tema penyerangan Sultan Agung dari kerajaan Mataram ke pasukan JP Coen di Batavia. Tema itu dinilai memiliki arti sejarah yang cukup penting dalam berdirinya kota Jakarta. Lalu, Diputuskan lukisan ‘sejarah’ itu dibagi dalam tiga tema terpisah. Bagian pertama, lukisan sosok Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram ke 3, yang duduk dengan gagah diatas singgasana kerajaan lengkap dengan baju kerajaannya.

Kedua, cuplikan penyerangan pasukan JP Coen oleh pasukan Sultan Agung di Batavia pada tahun 1628. Ketiga, lukisan pertemuan antara Kyai Rangga (Bupati Tegal) dengan JP Coen saat diperintahkan untuk melakukan perundingan damai dan memata-matai benteng VOC sebagai bagian dari persiapan penyerangan ke Batavia pada tahun 1628.

Pemisahan lukisan menjadi tiga tema itu, menurut kurator dan ahli museum Amir Sadikin, merupakan wujud penggambaran interpretasi Sudjojono dalam ‘merekam’ berbagai sisi peristiwa serangan tersebut. “Ia ingin menunjukkan sisi kebijaksanaan dan spiritualisme Sultan Agung yang digambarkan sebagai sosok bijaksana. Dimana, Sultan Agung lebih mengedepankan upaya diplomasi ketimbang menyerang prajurit Belanda dengan membabi buta dan mengorbankan lebih banyak tentara,”kata Amir.

Luas keseluruhan lukisan mencapai 3x10 meter. Luar biasa besar dibandingkan lukisan-lukisan karya seniman Indonesia yang pernah ada. Sudjojono bahkan terpaksa membangun ruangan khusus di perkarangan tempat tinggalnya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, agar bisa memasukkan kanvas berukuran besar itu.

“Semula Sudjojono diminta untuk melukis langsung di museum, namun ditolak. Karena menurutnya bekerja di museum sangat membatasi geraknya. Ia terpaku dengan jadwal buka dan tutup museum. Padahal cara kerja Pak Djon tidak bisa diprediksi, bebas,”ungkap Rose Pandanwangi, istri Sardjojono sekaligus pendiri S. Sardjojono Center.

Detail lukisan ini cukup rumit. Seperti yang terlihat dalam lukisan penyerangan ke Batavia, Sudjojono mengambarkan gedung Balai Kota (Stadhuis) dan gereja kecil yang terbakar akibat serangan tentara Mataram. Ia juga menggambarkan karakter yang kuat dalam penampilan tentara-tentara Mataram yang berasal dari berbagai suku di Nusantara seperti suku Jawa, bali, Nusa tenggara Barat, Makasar dan Madura.

Untuk mendapatkan detail-detail itu, Sudjojono melakukan riset tunggal (research) selama kurang lebih satu tahun. Ia juga secara khusus berkunjung ke Belanda untuk melakukan riset selama tiga bulan ke sejumlah museum. Rose mengatakan, riset tersebut dilakukan selain untuk memastikan kebenaran fakta-fakta terkait peristiwa tersebut, Sudjojono juga menekankan focus utamanya untuk mendapatkan gambaran tepat tentang sosok dan wajah JP Coen.

“Ia sangat senang mendapatkan tugas untuk menggambarkan peristiwa itu, meski di sisi lain ia juga panik karena harus memikirkan dua hal dalam waktu bersamaan. Kebetulan saat itu, Pak Djon harus mengadakan pameran lukisan di Belanda,”kata Rose.

Rose mengaku cukup sulit untuk menemukan gambaran JP Coen. Tetapi, akhirnya gambar tersebut ia dapatkan di sebuah gedung perkantoran besar, di salah satu kota kecil di Utara Belanda. Gambaran sosok JP Coen terlukis di sebuah pilar yang sangat tinggi, hingga Sudjojono terpaksa memanjat gedung perkantoran itu agar setara dengan gambaran wajah JP Coen, yang digambarkan Rose sangat kecil. “Bapak memfoto dan membuat sketsa yang cukup banyak tentang wajah JP Coen saat itu,”kata Rose.

Sudjojono juga melakukan riset seputar gaya berpakaian, yang digunakan para prajurit Belanda mulai dari bentuk baju hingga sepatu. Ratusan skesta dihasilkan Sudjojono dalam riset tunggalnya itu. Sebagian besar sketsa-sketsa itu masih tersimpan rapi, tidak dipublikasikan ke publik.



(ki-ka: Kurator Seabad S. Sudjojono-Santy Saptari, Kurator dan ahli museum- Amir Sidharta, Mantan Menteri P&K Wardiman Djojonegoro, Istri S.Sudjojono- Rose Pandanwangi, Kepala Museum Sejarah-Enny Prihantini dan model lukisan Sultan Agung-Akum Suhanda)

Sudjojono juga menggunakan model khusus dari Belanda dalam menggambarkan karakter-karakter di lukisannya itu. Alasannya cukup sederhana, ia tidak ingin menggambarkan karakter-karakter dalam lukisan yang hanya sebagai figure generic. Ia memilih masing-masing karakter seperti sutradara memilih para pemainnya. Uniknya, ia memanfaatkan salah satu pegawai di Museum Sejarah, yakni Akum Suhanda, sebagai model pejuang dari Madura dalam lukisannya.

“Pak Djon bahkan selalu bersendagurau dengan para tamunya yang tertarik untuk melihat langsung pembuatan lukisan itu, dengan meminta mereka menjadi model dalam lukisannya. Padahal, tidak sedikit tamu yang berasal dari Belanda harus digambar dengan posisi kepalanya diinjak-injak,”kata Rose.

Penyelesaian lukisan itu sendiri tidak sepenuhnya diselesaikan di sanggar pribadi Sardjojono. “Saat lukisan itu baru selesai sekitar 70 persen, Pak Ali Sadikin meminta Pak Djon untuk segera mengirimkan lukisan itu ke museum sejarah. Karena, Ratu Inggris Elizabeth II berencana berkunjung ke Museum Sejarah yang dulu disebut Museum Fathahillah,”ujar Rose.

Kompleksitas dan rumitnya detail dalam lukisan inilah yang kemudian dinilai cukup layak menjadikannya sebagai maha karya Sudjojono. Tidak sekedar karena ukurannya yang luar biasa besar dibandingkan lukisan umumnya. Terutama tidak cukup banyak seniman lukis Indonesia yang tertarik untuk ‘menjerat’ sejarah di dalam karyanya hingga rela melakukan riset yang cukup mendalam.

“Lukisan sejarah milik Sardjojono bukan sekedar lukisan ilustratif. Ia melakukan riset yang cukup mendalam untuk mendapatkan detail yang tepat. Sekaligus berani untuk menginterpretasikan sudut pandangnya sendiri atas peristiwa itu. Inilah mengapa lukisan ini layak disebut mahakarya Sardjojono,”kata Amir.

Amir juga menilai bahwa lukisan ini bukanlah sekedar cuplikan sejarah. “Aspek-aspek yang sangat menarik di lukisan ini tidak hanya satu dan dua, tapi sangat banyak. Kita tidak melulu diajak hanya untuk membahas sisi Sardjojono dalam lukisan ini, tetapi ia juga mengantarkan kita untuk mengenal lebih dalam tentang peristiwa itu. Bagaimana perawakan para tentara Belanda saat itu, bagaimana pakaian tentara-tentara Sultan Agung, dan berbagai interplasinya dalam sejarah itu,”kata Amir.

Konservasi dan Restorasi

Setelah dipajang kurang lebih selama 39 tahun, lukisan Pertempuran Sultan Agung Melawan Jan Pieterzoon Coen mulai menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan. Kondisi itu sebenarnya cukup umum dihadapi oleh koleksi-koleksi seni terutama berbahan dasar organik. Sifatnya yang cukup peka terhadap kondisi lingkungan seperti fluktuasi suhu udara dan kelembaban, meningkatkan resiko munculnya retakan-retakan mikro yang menjadikan lukisan rapuh.

Kondisi mengkhawatirkan itu sudah terlihat sekitar tahun 2000. Kepala Museum Sejarah Jakarta, Enny Prihantini, menjabarkan hampir sebagian besar bagian lukisan mengalami degradasi, pemudaran warna dan pelapukan akibat pencahayaan langsung dan kelembabapan yang tinggi di museum. Ujung-ujung kanvas juga mulai diserang rayap hingga membuat salah satu sisi kanvas robek cukup parah.

Akhirnya diputuskan untuk melakukan tindakan cepat guna menyelamatkan lukisan mahakarya Sudjojono itu. Untuk melakukannya, tim konservasi Museum Sejarah Jakarta bekerja sama dengan ahli konservasi koleksi seni dari Tropen Museum Amsterdam dan Heritage Conservation Center (HCC) Singapura. Upaya konservasi pun dilakukan secara marathon selama dua bulan, yakni Juli-Agustus 2008 lalu.

Penanganan konservasi lukisan ini dilakukan secara ekstra hati-hati dengan tahapan-tahapan khusus yang disesuaikan dengan kondisi kerusakan lukisan. Diawali dengan pembersihan akumulasi debu secara mekanis menggunakan kuas halus. Sementara, untuk noda-noda lemak dibersihkan dengan bahan pelarut organik, dengan komposisi white spirit: alkohol: terpentin dengan rasio 2:1:2 pbv. Untuk kasus pemudaran tidak banyak dilakukan intervensi.

Pada 29 Agustus 2008, lukisan monumental itu selesai dikonservasi dan dilaunching kembali ke tengah-tengah masyarakat. Berita keberhasilan restorasi mendapatkan perhatian besar tidak saja dari media nasional tapi internasional. Salah satu alasannya, karena upaya konservasi untuk karya lukisan dengan luas hingga 10 meter itu baru pertama kali dilakukan. Bahkan, oleh para ahli konservasi seni lukis dari Singapura, HCC.

Meski langkah penyelamatan berhasil dilakukan, tidak berarti ancaman tersebut sudah tidak ada. Kondisi ruangan yang lembab, atap gedung yang bocor, kembali memberikan ancaman yang sama. Jika tidak ada upaya pencegahan dan perawatan yang tepat, dipastikan lima hingga 10 tahun kedepan kondisi lukisan Sudjojono kembali terancam.

Rose Pandanwangi juga menyambut gembira keberhasilan upaya konservasi dan restorasi lukisan tersebut. Ia pun berharap pihak Museum Sejarah terus berupaya untuk menyelamatkan lukisan itu. Karena baginya, lukisan ‘Pertempuran antara Sultang Agung dan JP Coen’ itu adalah lukisan sejarah terbaik yang ada di Indonesia. Puncak dari karier pak Djon, demikian katanya. “Safe the painting of Sultan Agung for the future, untuk generasi muda agar mereka dapat menikmati pekerjaan besar ini,”katanya.

Sosok Sudjojono dibalik Cangklong (Pipa Rokok)

Sudjojono lahir di Kisaran, Sumatera Utara, pada tahun 1913. Ia mulai berkiprah di dunia seni lukis pada tahun 1937 dengan Chiyo Yasaki sebagai tutornya. Karya-karyanya dikenal beraliran realism ekspresionis yang menekankan realita hidup dan kritik sosial. Sangat berbeda dengan karya-karya Affandi atau Hendra Gunawan. Sebagian besar hasil karyanya menyasar ke potret sosial, potret diri, keseharian keluarganya, kritik terhadap dunia seni, sejarah nasional, fantasi, ragam tradisi, pemandangan hingga kecenderungan religi.

“Dalam pengembangannya, Sudjojono memiliki dua tipe gaya melukis. Pertama bergaya realis seperti yang terlihat dalam sebagian besar karyanya yang menceritakan tentang revolusi. Kedua, gaya karikatural seperti yang ia lakukan dalam lukisan Cap Go Meh,”kata Amir.

Kompleksitas karyanya ini pula yang menjadikannya sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia. Tidak sedikit karya-karyanya dibuat dengan tema parodi yang sangat mengena, lucu dan kocak. Saat ini, sebagian besar lukisannya bisa ditemukan di Balai Seni Rupa, Museum Istana Keperesidenan dan Galeri Nasional.


Pada tahun 1973, Sudjojono yang idealis mendirikan PERSAGI, Persatuan Ahli Gambar Indonesia. Tujuannya hanya satu yakni untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa pelukis-pelukis Indonesia tidak kalah bermutunya dibandingkan pelukis dari manca negara. Pasalnya saat itu, banyak pelukis aktif di tanah air yang hanya menerima orderan dari orang-orang asing saja.

Sebagian besar anggotanya adalah teman-teman Sudjojono sendiri, termasuk beberapa seniman Belanda seperti Jan Frank, Henry van Velthuysen dan author De Loos-Haaxman of Bataviasche Kunstkring. Sementara yang memimpin kelompok ini adalah Agus Djaya. Melalui PERSAGI upaya Sudjojono untuk menunjukkan ‘keangkuhan’ para seniman Indonesia ternyata berhasil. Ia sendiri juga berhasil membuktikan saat sukses menyabet penghargaan atas karyanya ‘Kinderen met Kat” (anak-anak dan kucing) dalam ajang pameran lukisan di Batavia.

Sudjojono juga dikenal sebagai ‘Bapak Seni Lukis Indonesia Baru’ dan pemikir seni yang merintis pendefinisian ‘seni’ dan ‘seniman’ dalam konteks sejarah Indonesia. Ia pula orang Indonesia yang pertama kali menemukan istilah ‘sanggar’ dan ‘pelukis’. Pada tahun 1940-an, Sudjojono merumuskan salah satu dalil yang sangat terkenal di dunia seniman yakni dalili ‘jiwa ketok’ atau ‘jiwa tampak’. Dalil tersebut berkenaan dengan definisinya tentang seni. “Kalau seorang seniman membuat suatu barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Kesenian adalah Jiwa,”demikian ia menjabarkan.

Setidaknya ada dua buku yang menceritakan secara rinci tentang sosok dan karya Sudjojono, yakni Visible Soul karta Amir Sidharta dan Buku Sang Ahli Gambar karya Aminudin Siregar yang focus pada sketsa-sketsa karya Sudjojono.

Kisah perjalanan hidup Sudjojono ‘ditutup’ pada 25 Maret 1986. Ia meninggal akibat penyakit kanker paru-paru di usia 85 tahun. Hingga kini, karya-karyanya yang mencapai 400-500 karya masih dipamerkan di Amerika Serikat, Belanda, dan Singapura. Namun, keberadaanya tersebar dan masih cukup banyak yang belum terdokumentasikan dalam bentuk buku.

Diedit untuk diterbitkan di Sarasvati.co.id, 19 April 2013 

Senin, 12 September 2011

passion


ketika semangat untuk berbuat lebih, melakukan yang terbaik, tidak lagi mengisi benak. Dan, ketika rasa bersaing mulai redup...

saya harus memutuskan untuk bertahan atau meninggalkan.

berani memutuskan untuk keluar dari zona nyaman, berani untuk mengambil resiko, dan berani untuk bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

meski berstatus istri, ibu dan seorang putri dari seorang ayah. apapun yang diputuskan akan mempengaruhi langkah diri di masa depan. yang lain akan ikut terpengaruh atas putusan mereka sendiri.